RSS

Minggu, 19 Mei 2013

Saat Cinta Harus Memilih


 
Saat Cinta Harus Memilih


“Wi bangun, sudah pagi ini” kata ibu sambil mengetuk pinti kamarku. Pelan pelan aku mencoba untuk membuka mata dan mengumpulkan segala tenaga. Yah hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA, jadi wajar saja jika aku susah untuk bangun pagi karena terbiasa bangun siang selama libur sekolah. Segera saja aku mandi dan mempersiapkan kostumku untuk acara MOS. “ah ada ada saja ini masak iya suruh nempelin pita diseluruh jilbabku” gerutuku kesal. Dan benar saja setelah aku siap dan membuka kamarku untuk segera sarapan seluruh keluargaku menertawakanku karena menurut mereka aku sangat aneh. “ya ampun lucunya anak ayah ini” ledek ayahku. “yaaah apaan sih yah” jawabku kesal

“cepetan sarapannya, itu nak kiki udah di depan” kata ibuku sambil menepuk bahuku. “iya bu sebentar”. Segera aku keluar rumah dan menemui lelaki itu, pandanganku masih tertuju pada lelaki itu. Lelaki yang seperti magnet dengan daya tarik terkuat, dan aku adalah benda konduktor yang rela ditarik oleh magis pesonanya. Lelaki yang sejak aku smp mengenalnya dan diam diam aku menyukainya. Entah ini perasaan semu atau apa, yang kurasa aku ingin selalu dekat dengannya. Betapa sempurnanya hidupku saat mengetahui bahawa lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama. Aku takakan pernah lupa bagaimana cara dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Lelaki yang kini telah menjadi miliku kini ada di depanku dengan senyumnya yang selalu aku tunggu dan tatapannya yang selalu membuatku tenang. Sudah sebulan kami menjalani hubungan yang kata ayahku cinta monyet. Tapi ayahku tak melarangnya karena kebetulan ayah dari lelaki itu adalah teman ayahku.
“Hey kok bengong? Sudah siap? Ayo berangkat nanti kita terlambat lo?” sapa kiki dengan lembut membuyarkan segala lamunanku. “iya ini udah siap, ayo kita berangkat” jawabku riang. Aku dan kiki memang sudah tidak satu sekolah tapi sekolah kami jaraknya cukup dekat dan searah jadi kiki memintaku untuk berangkat bersamanya.
“Gimana persiapan MOSnya wi?”  
“Ribet aku malu nih kaya ondel ondel saja”
 “Nggak kok, kamu masih tetep cantik”
 “Gombal.....”
“hahahahaha”
Saat istirahan aku dan teman teman pergi ke kantin untuk membeli minum. “wi kamu mau ikut organisasi apa?” tanya Diyah teman sebangkuku. “masih bingung aku yah, em sepertinya aku mau ikut rohani islam aja deh, lumayankan jadi tambah tambah ilmu dan pengalaman” .
Hari ini adalah perekrutan organisasi islam, dan aku mendaftarkan diri untuk mengikuti organisasi tersebut. “ukhti besok minggu dateng ya ke pengajian” ajak dewi salah satu temanku di organisasi tersebut. “iya insyallah ya dew” balasku sambil tersenyum.
Hari minggu pun tiba, aku memintak kiki untuk mengantarkanku kesekolah untuk mengikuti pengajian tadi. 
“nanti mau di jemput jam berapa?”
“eeeem jam 10, kamu bisa jemput?”
“bisa kok, nanti aku jemput di sini ya ?”
“iya, ati ati ya”
            Pengajian ahad itu ternyata membahas tentantang virus merah jambu, di pengajian itu aku baru mengetahui ternyata pacaran itu sama dengan berdzina. Seketika hatiku bergetar, perasaan bersalah dan berdosa menghinggap dan menari nari di otakku. Aku hanya bisa diam dan berenung ketika pengisi pengajian menyampaikan kebenaran kebenaran yang selama ini aku tidak mengetahunya, atau...aku pura pura tidak tau? Dan betapa mengerikannya ketika pengisi pengajian memberi tahu adzab adzab yang akan kita rasakan karena kita bila kita berdzina.
            Sepanjang perjalanan pulang tak ada percakapan diantara aku dan Kiki aku hanya diam, tak bergeming. Kalaupun Kiki mengajakku berbicara aku hanya menjawabya singkat dan sedikit ketus. “kamu kenapa sih wi? Sakit?” akhirnya Kikipun menanyakan hal ini kepadaku. “ enggak kok” balasku singkat. “terus kenapa? ada masalah apa?” tanya Kiki sedikit panik. “enggak, nggak ada apa-apa kok” .
            Sesampainya dirumah aku cuma diam, menyendiri di kamar. Mungkin seisi rumah heran kenapa aku berkelakuan aneh. Sesekali ibuku mengetuk pintu untuk mengajak makan, tapi selalu ku tolak dengan dalih masih kenyang. Yang aku lakukan di kamar hanya menangis. Rasa sesal, bersalah, takut, bingung campur menjadi satu. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengakhiri hubungan ini? Hubungan yang begitu indah, dan untuk yang pertama kalinya bagiku. Ya Allah beri aku petunjuk-Mu. Batinku merintintih tak kuat bila harus membayangkan kalau aku tanpanya.
            Malam itu aku tahajut, menumpahkan segala rasa, dan memohon ampunan-Nya. Dalam sujudku yang terakhir butiran butiran air mata tumpah. Malam itu pun aku mengambil keputusan, keputusan yang akan merubah hidupku.
            Pagi harinya aku sms kiki untuk mengajaknya bertemu di taman dekat rumahku. Dan kiki pun mengiyakan permintaanku. Rasanya tak kuat aku langkahkan kaki menuju taman, terasa berat seolah olah ada beban berkilo-kilo di kakiku. Saat itu kiki belum datang, aku duduk di taman, taman yang menjadi saksi saat kita mengikat hubungan yang semu ini. Hubungan yang aku sendiripun belum paham apa maknanya. 
            “hy wi ada apa? Kangen ya?” sapa kiki. Aku hanya diam tak menjawab pertanyaanya. “looh mata kamu kenapa kok bengkak? Kamu habis nangis? Ada masalah apa?” tanya kiki lagi. Mungkin ini gara gara aku mengangis semalaman. “ki aku mau ngomong sesutu sama kamu” . “ ada apa?” balas kiki gusar. “aku ingin kita putus kik” akhirnya kalimat itupun keluar dari mulutku bersamaan dengan jatuhnya tetesan airmata ini. “looh kok gitu? Kenapa? apa salahku?” protes kiki tidak trima. “ki, hubungan ini tidak boleh di lanjutkan, agama tidak membolehkan kita melakukan hubungan ini” jelasku. Tak kuat rasanya untuk menatap mata kiki. “tapi...aku mencintaimu, apa yang salah?” jawab kiki sambil terbata-bata. “hubungan ini yang salah!” aku menangis sejadi jadinya. Akhirnya aku meninggalkan kiki sendirian di taman, meninggalkan lelaki yang sangat ku cinta. Lelaki yang selalu ku tunggu senyum yang selalu mengembang di wajahnya kala dia menatapku, lelaki yang mempunya tatapan sendu yang selalu mampu menenangkanku. Di taman ini tempat dimana aku memulai hubungan dengannya, sekaligus mengakhirnya. Dan sore itu menjadi sore yang paling menyedihkan yang pernah aku lalui.
            Satu bulan berlalu, semenjak kejadian itu aku tak pernah lagi mendengar kabar darinya atau bertemu dengannya. Mungkin dia marah kepadaku, dan akupun bisa terima. Aku sepi, di tengan opini orang yang menganggapku ramai. Senyumku terkadang hanya hiasan bibir.
Sore ini hujan turun lagi, hujan ternyata masih menjadi peran antagonis, hujan kembali mengingatkanku padanya. Dia yang satu bulan  ini aku tinggalkan, tanpa ucapan selamat tinggal. Dia yang selalu mengajariku bagaimana cara tersenyum dalam kesedihan.
            Ya Allah...berdosakah aku kalau aku masih saja merindukanya, berdosakah aku bila aku masih mencintainya? Terkadang aku masih mengkhawatirkan bagaimana pola makanya, konyol memang. Selalu terselib namanya dalam setiap sujutku. Walau tangan ini tak dapat memeluknya tapi aku selalu memeluknya dalam doa. Terkadang aku meminta kepada Tuhan agar dia menjadi imamku kelak. Aku ingin sekali kelak aku dan dia mengikat suatu hubungan lagi, hubungan yang nyata dan suci.
            Aku dengar kini dia tengah dekat dekan seorang wanita. Siapa wanita pilahanya saat ini? Betapa beruntungnya wanita itu bisa menjadi miliknya. Aku berharap wanita itu bisa menghapus rasa sakit yang dia rasakan dan menggantikanya dengan senyuman. Aku bahagia karna dia telah mendapatkan penggantiku walau masih terselib rasa sakit.
            Aku sempat terpikir untuk melupakannya, sempat terencana untuk menghapus kenangannya, pernah terbesit untuk tak lagi merindukanya, tapi ternyata aku belum cukup kuat untuk melakukanya. Aku terlalu lemah untuk melupakanya. Berdosakah aku ya Tuhan?

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright AMALINDA 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .